/* */
MEDIA PENDIDIKAN dan PEMBELAJARAN Ilmu Mantiq (Logika): Kaidah Berfikir yang Memelihara Akal, agar tidak terjadi Kerancuan dalam Berfikir.
Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Tuesday, January 18, 2022

Ramadhan Bulan Peningkatan Ilmu (bagian 2)

Alhamdulillah, segala puji hanya kepada Allah SWT. Kita bersyukur hingga hari ini diberi kekuatan dan kesempatan untuk menjalani hari-hari Ramadhan dengan penuh amal kebaikan. Sholawat dan salam kepada Rasulullah SAW nabi junjungan kita semua, yang mengisi Ramadhan dengan sepenuh amal yang berkah. Memberikan contoh kepada kita beragam amal yang disyariatkan dalam Ramadhan yang mulia. Semoga kita mampu meniru dan menjalankannya.
Kelima : Karena ilmu membuat kita takut pada Allah SWT
Allah SWT berfirman : Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah para ulama.. (QS Faathir 28)
Ilmu menjadikan para ulama takut kepada Allah SWT. Bukan hanya ilmu agama atau syariah, tetapi semua ilmu kebaikan berasal dari Allah sehingga mereka yang mendalaminya semestinya bisa merasakan keagungan dan kebesaran Allah SWT, untuk kemudian lebih takut kepada-Nya.
Ilmu aqidah membuat orang mengenal Allah SWT dari dalil-dalil naqli dalam Al-Quran dan Hadits, tentang sifat Allah SWT, kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ilmu Fiqh membuat orang terkagum-kagum dan mengakui kebesaran Allah yang telah menciptakan syariat yang begitu sempurna dan komprehensif, tidak ada tandingannya dengan hukum buatan manusia ! Begitu pula mereka yang mempelajari ilmu kedokteran, fisika, biologi bahkan matematika, akan mengagumi kebesaran Allah SWT melalui ayat-ayat kebesaran Allah SWT yang begitu banyak tersebar di alam raya ini ; tentang fase penciptaan manusia, tentang pengaturan alam semesta, tentang anatomi hewan dan tumbuhan, tentang mineral sumber daya alam dan seterusnya dan seterusnya. Semua menceritakan dengan lugas dan jujur tentang kebesaran Allah SWT. Maka layaklah jika para ulama dan ilmuwan sholeh menjadi orang yang paling takut kepada Allah SWT.
Keenam : Karena orang yang berilmu akan mendapat kebaikan
Dari Muawiyah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Barang siapa yang Allah SWT menginginkan kebaikan padanya, maka akan difahamkan dalam masalah agama ! " ( HR Bukhori dan Muslim)
Dengan ilmu maka seluruh kebaikan akan mendatanginya. Ketika ibadah maka ia beribadah dengan benar sesuai syariat. Ia juga beribadah dengan ikhlas dan khusyuk karena ia adalah orang yang paling takut pada Allah SWT. Ketika ia bermuamalah maka ia mengetahui yang halal dan haram, maka tidak sekeratpun harta haram masuk dalam tubuhnya dan tubuh anak istrinya.
Bahkan ketika ia mendapat ujian dari Allah SWT, baik yang berupa kenikmatan seperti ;
kekayaan, pangkat jabatan atau yang berupa kesusahan, seperti ; sakit, musibah, kematian dan cobaan , maka ia menghadapi semua itu dengan syukur ataupun sabar. Syukur dan Sabar adalah sumber kebaikan yang menakjubkan, tidak dimiliki kecuali orang yang beriman dan berilmu.
Dari Suhaib bin Sinan ra, Rasulullah SAW bersabda : " Sungguh mengagumkan urusan kaum mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Dan kebaikan ini hanya dimiliki orang mukmin. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya.Jika mendapat musibah ia bersabar dan hal itu juga baik baginya !" (HR Muslim)
Ketujuh : Karena ilmu yang bermanfaat menjadi pahala yang terus mengalir hingga kiamat
Dari Abu Hurairah Rasulullah SAW bersabda : Semua amal manusia terputus (pahalanya) setelah kematiannya, kecuali tiga perkara : sedekahnya, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya " ( HR Muslim)
Kemuliaan orang yang berilmu terus berlanjut hingga hari kiamat, meski jasadnya telah menyatu dengan tanah. Hal ini berlaku untuk seluruh ilmu kebaikan yang bermanfaat tanpa terkecuali.
Misalnya seseorang mahasiswa dengan ilmu elektronika yang ia dapat di perkuliahannya, pulang ke desanya yang terpencil dan merintis pembangkit listrik kecil-kecilan pada sungai tepi desanya. Ia berhasil dan warga desa suka cita menyambutnya. Tidak cukup hanya itu, ternyata warga desa tetangga pun tertarik mengikutinya dan segera belajar darinya. Kembali ia mengajarkan, berhasil, dan diikuti oleh yang lainnya. Demikian seterusnya dan kebaikan itu terus diikuti oleh yang lainnya. Ibaratnya sistem Multi Level Marketing, maka sang mahasiswa ternyata terus mendapat point dari level di bawah yang mengikuti ilmu kebaikannya, bahkan hingga ia meninggal nantinya.
Sistem MLM pahala karena ilmu kebaikan yang bermanfaat adalah legal dan disyariatkan dalam Islam. Dari Jarir bin Abdullah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Barang siapa yang mensunnahkan (memulai) dalam Islam sunnah yang baik, maka bagi dia pahalanya dan pahala orang yang mengerjakannya setelah itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun " ( HR Muslim)
Kedelapan : Karena orang yang berilmu dimintakan ampunan oleh semua makhluk
Dari Abu Darda', Rasulullah SAW bersabda : " dan sesungguhnya orang yang berimu itu, dimintakan ampunan oleh penghuni langit, bumi bahkan ikan-ikan di laut yang dalam " (HR Ibnu Hibban)
Mengapa setiap makhluk merasa berhutang budi pada para ulama, bahkan ikan di dalam lautan ?. Dalam kitab Mukhtasor Minhajul Qasidin disebutkan bahwa hal ini terjadi karena ulama mengajarkan ilmu yang membawa kebaikan pada seluruh makhluk pula, seperti ; ilmu ihsan dalam penyembelihan, ilmu larangan untuk menyiksa binatang, menebang pepohonan, merusak alam, dan seterusnya. Sehingga wajar ketika kemudian mereka memintakan ampunan pada Allah SWT bagi orang yang berilmu.
Kesembilan : Karena Allah SWT, para malaikat, penghuni langit dan bumi bershalawat /mendoakan para pengajar ilmu kebaikan
Dari Abu Umamah ra, Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT dan para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, bahkan semut dilobangnya, bahkan juga ikan, semuanya bershawalat / mendoakan orang yang mengajarkan ilmu kebaikan " ( HR Tirmidzi, ia mengatakan : Hadits Hasan )
Barangkali ini adalah kemuliaan di atas kemuliaan makhluk bernama manusia. Orang berilmu yang mendapatkan kemuliaan tak terhingga itu. Bayangkan saja, Sang Kholiq dan makhluk-Nya semua bershalawat dan mendoakan untuknya! Mengharapkan kebaikan dan kemuliaan itu senantiasa ada pada orang yang berilmu hingga akhir hayatnya ! Akhirnya, semoga Allah SWT memudahkan niatan kita dalam meningkatkan keilmuan kita, khususnya pada bulan Ramadhan yang mulia, wallahu a’lam bisshowab.
(Hatta Syamsuddin, Lc)

Ramadhan Bulan Peningkatan Ilmu(Bagian 1)

Kenyataan sejarah dan juga pengamatan di sekitar kita telah menyimpulkan dengan sederhana bahwa ; ilmu mengubah seseorang menjadi lebih mulia. Kesimpulan sederhana ini sejalan dengan banyak dalil dalam Al-Quran maupun As-Sunnah . Banyak dalil naqli yang menguatkan kemuliaan seseorang karena ilmunya. Mari kita teliti satu per satu, mengapa ilmu membuat kita jadi mulia dunia dan akhirat.

Pertama : Karena Allah SWT membedakan dan mengangkat derajat orang yang berilmu
Allah SWT berfirman : Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS az-Zumar 9 ). Firman Allah SWT : "Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Mujadalah ayat 11). Ibnu Abbas ra mengomentari ayat di atas dengan mengatakan : Tingkatan para ulama dibanding orang mukmin biasa adalah lebih tinggi sebanyak 700 derajat, dimana diantara satu derajat ke derajat setelahnya adalah sama dengan jarak 500 tahun perjalanan !
Kedua : Karena orang yang berilmu senantiasa dijadikan rujukan
Allah SWT berfirman : Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui, (QS an-Nahl 43). Seorang yang berilmu suka atau tidak pasti menjadi tempat orang bertanya dan merujuk kepadanya ketika mendapat sebuah permasalahan. Karena itu, mereka senantiasa menempatkan para ulama, guru dan ustadz pada kedudukan yang mulia. Ini adalah bukti nyata bahwa ilmu juga membuat orang mulia bukan Cuma di akhirat saja.
Ketiga : Karena ilmu adalah satu-satunya warisan Nabi
Dari Abu Darda', Rasulullah SAW bersabda : Dan sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi, dan sesungguhnya para nabi itu tidak pernah mewariskan dinar dan tidak pula dirham, tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barang siapa mengambilnya, sungguh telah mengambil bagian yang besar ". (HR Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah)
Tidak ada keraguan bahwa manusia termulia adalah para nabi. Kemuliaan mereka diwariskan melalui ilmu agama. Para ulama yang mengambilnya pun berhak mendapatkan kemuliaan itu. Maka derajat mereka pun naik membumbung tinggi di akhirat nanti, sejajar dengan para nabi dan syuhada ! Dari Utsman bin Affan ra, Rasulullah SAW bersabda : Yang pertama memberi syafaat pada hari kiamat ada tiga : para nabi, para ulama dan para syuhada' (HR Ibnu Majah)

Keempat : Karena ilmu membuat kita beramal dengan benar dan ditakuti syaitan
Dari Abu Darda' ra, Rasulullah SAW bersabda : " Dan sungguh perbedaan keutamaan orang yang berilmu dengan orang yang gemar beribadah, sebagaimana keutamaan bulan purnama dari seluruh bintang lainnya" ( HR Tirmidzi , Ahmad). Mengapa orang 'alim (berilmu) ternyata mempunyai keutamaan yang lebih mulia dibandingkan orang yang rajin ibadah? Logika sederhana kita akan menjawabnya. Seorang berilmu sholat sunnah dua rekaat. Dia berwudhu dengan benar, sholat dengan benar dan khusyuk, mengetahui syarat, rukun dan hal-hal yang merusak ibadahnya. Sementara ada yang lainnya yang gemar sholat hingga delapan bahkan dua belas rekaat setiap malamnya, tetapi tidak memahami bacaannya, tidak mengetahui adab, syarat dan rukunnya, kira-kira yang mana yang lebih mulia amalannya ?
Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam meningkatkan ilmu agama dan menjalankannya dengan baik dan istiqomah. Wallahu a’lam bisshowab.
(Hatta Syamsuddin, Lc)

Sunday, September 4, 2011

Dasar syar‘i penggunaan hisab

1 . Kedudukan Hisab
Dalam penentuan awal bulan kamariah, hisab sama kedudukannya dengan rukyat [Putusan Tarjih XXVI, 2003]. Oleh karena itu penggunaan hisab dalam penentuan awal bulan kamariah adalah sah dan sesuai dengan Sunnah Nabi saw. Dasar syar‘i penggunaan hisab adalah,
a . Al-Quran surat ar-Rahman ayat 5: 
 

Artinya: Matahari dan Bulan (beredar) menurut perhitungan (ar-Rahman (55) : 5)
Artinya: Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan Bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan Bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu) (Yunus (10) : 185).
c. Hadis al-Bukhari dan Muslim,
Artinya: Apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila kamu melihatnya beridulfitrilah! Jika Bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah [HR al-Bukhari, dan lafal di atas adalah lafalnya, dan juga diriwayatkan Muslim].
<div class="fullpost"> 
d. Hadis tentang keadaan umat yang masih ummi, yaitu sabda Nabi saw,
Artinya: Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Maksudnya adalah kadang-kadang dua puluh sembilan hari, dan kadang-kadang tiga puluh hari [HR al-Bukhari dan Muslim].
Cara memahaminya(wajh al-istidlal-nya)  adalah bahwa pada surat ar-Rahman ayat 5 dan surat Yunus ayat 5, Allah swt menegaskan bahwa benda-benda langit berupa matahari dan Bulan beredar dalam orbitnya dengan hukum-hukum yang pasti sesuai dengan ketentuan-Nya. Oleh karena itu peredaran bendabenda langit tersebut dapat dihitung (dihisab) secara tepat.
Penegasan kedua ayat ini tidak sekedar pernyataan informatif belaka, karena dapat dihitung dan diprediksinya peredaran bendabenda langit itu, khususnya matahari dan Bulan, bisa diketahui manusia sekalipun tanpa informasi samawi. Penegasan itu justru merupakan pernyataan imperatif yang memerintahkan untuk memperhatikan dan mempelajari gerak dan peredaran benda-benda langit itu yang akan membawa banyak kegunaan seperti untuk meresapi keagungan Penciptanya, dan untuk kegunaan praktis bagi manusia sendiri antara lain untuk dapat menyusun suatu sistem pengorganisasian waktu yang baik seperti dengan tegas dinyatakan oleh ayat 5 surat Yunus (... agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu).
Pada zamannya, Nabi saw dan para Sahabatnya tidak menggunakan hisab untuk menentukan masuknya bulan baru kamariah, melainkan menggunakan rukyat seperti terlihat dalam hadis pada butir c di atas dan beberapa hadis lain yang memerintahkan melakukan rukyat. Praktik dan perintah Nabi saw agar melakukan rukyat itu adalah praktik dan perintah yang disertai ‘illat (kausa hukum). ‘Illatnya dapat dipahami dalam hadis pada butir d di atas, yaitu keadaan umat pada waktu itu yang masih ummi.1 Keadaan ummi artinya adalah belum menguasai baca tulis dan ilmu hisab (astronomi), sehingga tidak mungkin melakukan penentuan awal bulan dengan hisab seperti isyarat yang dikehendaki oleh al-Quran dalam surat ar-Rahman dan Yunus di atas. Cara yang mungkin dan dapat dilakukan pada masa itu adalah
dengan melihat hilal (Bulan) secara langsung: bila hilal terlihat secara fisik berarti bulan baru dimulai pada malam itu dan keesokan harinya dan bila hilal tidak terlihat, bulan berjalan digenapkan 30 hari dan bulan baru dimulai lusa.
Sesuai dengan kaidah fikih (al-qawa‘id al-fiqhiyyah) yang berbunyi,
Artinya: Hukum itu berlaku menurut ada atau tidak adanya ‘illat dan sebabnya2,
maka ketika ‘illat sudah tidak ada lagi, hukumnya pun tidak berlaku lagi. Artinya ketika keadaan ummi itu sudah hapus, karena tulis baca sudah berkembang dan pengetahuan hisab astronomi sudah maju, maka rukyat tidak diperlukan lagi dan tidak berlaku lagi. Dalam hal ini kita kembali kepada semangat umum dari al-Quran, yaitu melakukan perhitungan (hisab) untuk menentukan awal bulan baru kamariah.
Telah jelas bahwa misi al-Quran adalah untuk mencerdaskan umat manusia, dan misi ini adalah sebagian tugas yang diemban oleh Nabi Muhammad saw dalam dakwahnya. Ini ditegaskan  dalam firman Allah,
Artinya: Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul yang berasal dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan kebijaksanaan. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata [al-Jumu‘ah (62): 2].
Dalam rangka mewujudkan misi ini, Nabi saw menggiatkan upaya belajar baca tulis seperti terlihat dalam kebijakannya membebaskan tawanan Perang Badar dengan tebusan mengajar kaum Muslimin baca tulis, dan beliau memerintahkan umatnya agar giat belajar ilmu pengetahuan seperti tercermin dalam sabdanya,
Artinya: Menuntut ilmu wajib atas setiasp muslim [HR at-Tabarani dari ‘Abdullah Ibn Mas‘ud, dan riwayat Waki‘ dari Anas].
Dalam kerangka misi ini, sementara umat masih dalam keadaan ummi, maka metode penetapan awal bulan dilakukan dengan rukyat buat sementara waktu. Namun setelah umatnya
dapat dibebaskan dari keadaan ummi itu, maka kembali kepada semangat umum al-Quran agar menggunakan hisab untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.
Atas dasar itu, beberapa ulama kontemporer menegaskan bahwa pada pokoknya penetapan awal bulan itu adalah dengan menggunakan hisab,
Artinya: Pada asasnya penetapan bulan kamariah itu adalah dengan hisab3 .
Sumber : Pedoman Hisab Muhammadiyah (1430 H/2009 M)
</div> 

Thursday, December 30, 2010

Pidato abu bakar dan Umar

Pidato abu bakar sesaat setelah kaum muslimin berbaiaat kepadanya :
Selepas dibai’at Abu bakar mulai berpidato setelah memuji Allah Pemilik segala pujian ‘Amma ba’du, para hadirin sekalian sesungguhnya aku telah terpilih sebagai pimpinan atas kalian dan bukanlah aku yang terabik, maka jika aku berbuat kebaikan bantulah aku. Dan jika aku bertindak keliru maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanan, sementara dusta adalah suatu pengkhiatan.
Orang yang lemah di antara kalian sesungguhnya kuat di sisiku hingga aku dapat mengembalikan haknya kepadanya Insya Allah. Sebaliknya siapa yang kuat di antara kalian maka dialah yang lemah di sisiku hingga aku akan mengambil darinya hak milik orang lain yang diambilnya.
Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad di jalan Allah kecuali Allah akan timpakan kepada mereka suatu kehinaan, dan tidaklah suatu kekejian terbesar di tengah suatu kaum kecuali adzab Allah akan ditimpakan kepada seluruh kaum tersebut.
Patuhilah aku selama aku mematuhi Allah dan RasulNya.
Tetapi jika aku tidak mematuhi keduanya maka tiada kewajiban taat atas kalian terhadapku. Sekarang berdirilah kalian untuk melaksanakan shalat semoga Allah merahmati kalian

Pidato Umar sesaat setelah kaum muslimin berbait kepadanya:
Sesudah mengucapkan Hamdalah dan shalawat kepada nabi, dan setelah menyebut tentang Abu Bakar serta jasanya, ia berkata:
Saudara-saudara!! Saya hanyalah salah seorang dari kalian.
Kalau tidak karena segan menolak tawaran Khalifah Rasulullah (abu bakar, red) saya pun akan enggan memikul tanggung jawab ini.
Dia mengucapkan kata-kata tersebut dengan rasa haru, dengan rendah hati dan sangat berhati-hati. Kemudian umar menengadahkan tangannya secara berkata :
Allahumma ya Allah, aku ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku!
Allahumma ya Allah, saya sangat lemah maka berilah kekuatan!
Allahumma ya Allah,aku ini kikir maka jadikanlah aku orang yang dermawan dan bermurah hati!.
Umar berhenti sejenak, hingga orang-orang tenang kembali dan melanjutkan:
Allah telah menguji kalian dengan saya, dan menguji saya dengan kalian. Sepeninggal sahabatku, sekarang saya berada di tengah-tengah kalian. Tak ada persoalan kalian yang saya harus saya hadapi lalu diwakilkan kepada orang lain selain saya.
Dan tak ada yang tak hadir disini lalu meninggalkan perbuatan terpuji dan amanat. Kalau mereka berbuat baik akan saya balas dengan kebaikan, tetapi kalau melakukan kejahatan, terimalah bencana yang akan saya timpakan kepada mereka.


Tuesday, December 28, 2010

Agar Anak Menjadi Orang Yang Berilmu

ALLAHUMMAJ’ALNI WA AULADI WA DZURRIYYATI MIN AHLIL’ KHAIRI WA LA TAJ’ALNI WA IYYAHUMMIN AHLIS SU-I WA AHLIDH-DHAIRI WARZUQNI WA IYYAHUM ‘ILMAN NAFI’AN WA RIZQAN WA SI’AN
WA KHULUQAN HASANAN WATTAUFIQA LITH-THA’ATI WA FAHMAN NABIYYINA
“Ya Allah, jadikanlah aku, anak-anakku, dan keluargaku termasuk dari golongan orang yang baik. Dan janganlah Engkau jadikan aku serta mereka dalam golongan orang yang jahat, dan orang yang membuat mudarat. berilah rezeki kepadaku dan kepada mereka berupa ilmu yang bermanfaat, rezeki yang lapang, budi pekerti yang baik, pertolongan untuk taat, dan kepahaman mengenai para nabi”

Saturday, December 4, 2010

Setiap kalian adalah pemimpin

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya tersebut.

Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. (QS. Al Jin [72] : 27

Tujuh Langit, Tujuh Malaikat Penjaga, dan Tujuh Amal Sang Hamba

* Khalid bin Ma'dan, mereka berkata kepada Mu'adz bin Jabal, Hadits manakah yang engkau anggap sebagai hadits terpenting?" Mu'adz menjawab, "Baiklah, akan aku ceritakan..." Tiba-tiba Mu'adz menangis tersedu-sedu.

Kemudian Mu'adz melanjutkan: Suatu hari ketika aku menghadap Rasulullah Saw. yang suci, saat itu beliau tengah menunggangi untanya. Nabi kemudian menyuruhku untuk turut naik bersama beliau di belakangnya. Aku pun menaiki unta tersebut di belakang beliau. Kemudian aku melihat Rasulullah menengadah ke langit dan bersabda, "Segala kesyukuran hanyalah diperuntukkan bagi Allah yang telah menetapkan kepada setiap ciptaan-Nya apa-apa yang Dia kehendaki.

Wahai Mu'adz....! Labbaik, wahai penghulu para rasul....! Akan aku ceritakan kepadamu sebuah kisah, yang apabila engkau menjaganya baik-baik, maka hal itu akan memberikan manfaat bagimu. Namun sebaliknya, apabila engkau mengabaikannya, maka terputuslah hujjahmu di sisi Allah Azza wa Jalla....!

Wahai Mu'adz...Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkati dan Mahatinggi telah menciptakan tujuh malaikat sebelum Dia menciptakan petala langit dan bumi. Pada setiap langit terdapat satu malaikat penjaga pintunya.

1. Suatu hari naiklah malaikat Hafadzah dengan amalan seorang hamba yang amalan tersebut memancarkan cahaya dan bersinar bagaikan matahari. Hingga sampailah amalan tersebut ke langit dunia (as-samaa'I d-dunya) yaitu sampai ke dalam jiwanya. Malaikat Hafadzah kemudian memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya. Namun tatkala sampai pada pintu langit pertama, tiba-tiba malaikat penjaga pintu tersebut berkata, "Tamparlah wajah pemilik amal ini dengan amalannya tersebut!! Aku adalah pemilik ghibah... Rabb Pemeliharaku memerintahkan kepadaku untuk mencegah setiap hamba yang telah berbuat *ghibah* di antara manusia -membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan orang lain yang apabila orang itu mengetahuinya, dia tidak suka mendengarnya- untuk dapat melewati pintu langit pertama ini....!!"
2. Keesokan harinya malaikat Hafadzah naik ke langit beserta amal shalih seorang hamba lainnya. Amal tersebut bercahaya yang cahayanya terus diperbanyak oleh Hafadzah dan disucikannya, hingga akhirnya dapat menembus ke langit kedua. Namun malaikat penjaga pintu langit kedua tiba-tiba berkata, "Berhenti kalian...! Tamparlah wajah pemilik amal tersebut dengan amalannya itu! Sesungguhnya dia beramal namun dibalik amalannya itu dia menginginkan *penampilan duniawi belaka ('aradla d-dunya)..

3. Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan sang hamba yang nampak indah, yang di dalamnya terdapat shadaqah, shaum-shaumnya serta perbuatan baiknya yang melimpah. Malaikat Hafadzah pun memperbanyak amal tersebut dan mensucikannya hingga akhirnya dapat menembus langit pertama dan kedua. Namun ketika sampai di pintu langit ketiga, tiba-tiba malaikat penjaga pintu langit tersebut berkata, "Berhentilah kalian...! Tamparkanlah wajah pemilik amalan tersebut dengan amalan-amalannya itu! Aku adalah penjaga *al-Kibr (sifat takabur).* karena selama ini dia selalu bertakabur di hadapan manusia ketika berkumpul dalam setiap majelis pertemuan mereka...."

4. Malaikat Hafadzah lainnya membawa amalan seorang hamba yang tampak berkilauan bagaikan kerlip bintang gemintang dan planet. Suaranya tampak bergema dan tasbihnya bergaung disebabkan oleh ibadah shaum, shalat, haji dan umrah, hingga tampak menembus tiga langit pertama dan sampai ke pintu langit keempat. Namun malaikat penjaga pintu tersebut berkata, "Berhentilah kalian...! Dan tamparkan dengan amalan-amalan tersebut ke wajah pemiliknya..! Aku adalah malaikat penjaga sifat *'ujub (takjub akan keadaan jiwanya sendiri).* Dia selalu memasukkan unsur 'ujub di dalam jiwanya ketika melakukan suatu perbuatan...!"

5. Malaikat Hafadzah lainnya naik bersama amalan seorang hamba yang diiring bagaikan iringan pengantin wanita menuju suaminya. Hingga sampailah amalan tersebut menembus langit kelima dengan amalannya yang baik berupa jihad, haji dan umrah. Amalan tersebut memiliki cahaya bagaikan sinar matahari. Namun sesampainya di pintu langit kelima tersebut, berkatalah sang malaikat penjaga pintu, "Saya adalah pemilik sifat *hasad (dengki).* Dia telah berbuat dengki kepada manusia ketika mereka diberi karunia oleh Allah.

6. Malaikat Hafadzah lainnya naik dengan amalan seorang hamba berupa wudlu yang sempurna, shalat yang banyak, shaum-shaumnya, haji dan umrah, hingga sampailah ke langit yang keenam. Namun malaikat penjaga pintu langit keenam berkata, 'Saya adalah pemilik ar-rahmat (kasih sayang). Tamparkanlah amalan si hamba tersebut ke wajah pemilikinya. Dia *tidak memilki sifat rahmaniah sama sekali di hadapan manusia.* Dia malah merasa senang ketika melihat musibah menimpa hamba lainnya.

7. Naiklah malaikat Hafadzah lainnya bersama amalan seorang hamba berupa nafkah yang berlimpah, shaum, shalat, jihad dan sifat wara' (berhati-hati dalam beramal). Amalan tersebut bergemuruh bagaikan guntur dan bersinar bagaikan bagaikan kilatan petir. Namun ketika sampai pada langit yang ketujuh, berhentilah amalan tersebut di hadapan malaikat penjaga pintunya. Malaikat itu berkata, 'Saya adalah pemilik sebutan (adz-dzikru) atau *sum'ah (mencintai kemasyhuran)* di antara manusia. Sesungguhnya pemilik amal ini berbuat sesuatu karena menginginkan sebutan kebaikan amal perbuatannya di dalam setiap pertemuan. Ingin disanjung di antara kawan-kawannya dan mendapatkan kehormatan di antara para pembesar.

8. Dan malaikat Hafadzah lainnya naik beserta amalan seorang hamba berupa shalat, zakat, shaum demi shaum, haji, umrah, akhlak yang berbuahkan hasanah, berdiam diri, berdzikir kepada Allah Ta'ala, Mereka berhenti di hadapan ar-Rabb yang Keagungan-Nya (sifat Jalal-Nya) bertajalli. Dan para malaikat tersebut menyaksikan amal sang hamba itu merupakan amal shalih yang diikhlaskannya hanya bagi Allah Ta'ala.

Namun tanpa disangka Allah berfirman, 'Kalian adalah malaikat Hafadzah yang menjaga amal-amal hamba-Ku, dan Aku adalah Sang Pengawas, yang memiliki kemampuan dalam mengamati apa-apa yang ada di dalam jiwanya. Sesungguhnya dengan amalannya itu, sebenarnya dia tidak menginginkan Aku. *Dia menginginkan selain Aku...! Dia tidak mengikhlaskan amalannya bagi-Ku.* Dan Aku Maha Mengetahui terhadap apa yang dia inginkan dari amalannya tersebut. Laknatku bagi dia yang telah menipu makhluk lainnya dan kalian semua, namun Aku sama sekali tidak tertipu olehnya. Dan Aku adalah Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib, Yang memunculkan apa-apa yang tersimpan di dalam kalbu-kalbu. Tidak ada satu pun di hadapan-Ku yang tersembunyi, dan tidak ada yang samar di hadapan-Ku terhadap segala yang tersamar..... Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan-Ku terhadap apa-apa yang telah berlalu sama dengan pengetahuan-Ku terhadap yang akan datang. Dan pengetahuan-Ku terhadap segala sesuatu yang awal sebagaimana pengetahuan-Ku terhadap segala yang akhir. Aku lebih mengetahui sesuatu yang rahasia dan tersembunyi. Bagaimana mungkin hamba-Ku menipu-Ku dengan ilmunya.

Sesungguhnya dia hanyalah menipu para makhluk yang tidak memiliki pengetahuan, dan Aku Maha Mengetahui segala yang ghaib. Baginya laknat-Ku....!! Mendengar itu semua maka berkatalah para malaikat penjaga tujuh langit beserta tiga ribu pengiringnya, 'Wahai Rabb Pemelihara kami, baginya laknat-Mu dan laknat kami. Dan berkatalah seluruh petala langit, 'Laknat Allah baginya dan laknat mereka yang melaknat buat sang hamba itu..!

Mendengar penuturan Rasulullah Saw. sedemikian rupa, tiba-tiba menangislah Mu'adz Rahimahullah, dengan isak tangisnya yang cukup keras...Lama baru terdiam kemudian dia berkata dengan lirihnya, "Wahai Rasulullah......Bagaimana bisa aku selamat dari apa-apa yang telah engkau ceritakan tadi...??"

Rasulullah bersabda, "Oleh karena itu wahai Mu'adz.....Ikutilah Nabimu di dalam sebuah keyakinan...". Dengan suara yang bergetar Mu'adz berkata, "Engkau adalah Rasul Allah, dan aku hanyalah seorang Mu'adz bin Jabal....Bagaimana aku bisa selamat dan lolos dari itu semua...??"

Nabi yang suci bersabda, "Baiklah wahai Mu'adz, apabila engkau merasa kurang sempurna dalam melakukan semua amalanmu itu, maka cegahlah lidahmu dari ucapan ghibah dan fitnah terhadap sesama manusia, khususnya terhadap saudara-saudaramu yang sama-sama memegang Alquran. Apabila engkau hendak berbuat ghibah atau memfitnah orang lain, haruslah ingat kepada pertanggungjawaban jiwamu sendiri, sebagaimana engkau telah mengetahui bahwa dalam jiwamu pun penuh dengan aib-aib. Janganlah engkau mensucikan jiwamu dengan cara menjelek-jelekkan orang lain. Jangan angkat derajat jiwamu dengan cara menekan orang lain. Janganlah tenggelam di dalam memasuki urusan dunia sehingga hal itu dapat melupakan urusan akhiratmu. Dan janganlah engkau berbisik-bisik dengan seseorang, padahal di sebelahmu terdapat orang lain yang tidak diikutsertakan. Jangan merasa dirimu agung dan terhormat di hadapan manusia, karena hal itu akan membuat habis terputus nilai kebaikan-kebaikanmu di dunia dan akhirat. Janganlah berbuat keji di dalam majelis pertemuanmu sehingga akibatnya mereka akan menjauhimu karena buruknya akhlakmu. Janganlah engkau ungkit-ungkit kebaikanmu di hadapan orang lain. Janganlah engkau robek orang-orang dengan lidahmu yang akibatnya engkau pun akan dirobek-robek oleh anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman-Nya Ta'ala, "Demi yang merobek-robek dengan merobek yang sebenar-benarnya..." (QS An-Naaziyat [79]: 2)

Di neraka itu, daging akan dirobek hingga mencapat tulang........ Mendengar penuturan Nabi sedemikian itu, Mu'adz kembali bertanya dengan suaranya yang semakin lirih, "Wahai Rasulullah, Siapa sebenarnya yang akan mampu melakukan itu semua....??" "Wahai Mu'adz...! Sebenarnya apa-apa yang telah aku paparkan tadi dengan segala penjelasannya serta cara-cara menghindari bahayanya itu semua akan sangat mudah bagi dia yang dimudahkan oleh Allah Ta'ala.... Oleh karena itu cukuplah bagimu mencintai sesama manusia, sebagaimana engkau mencintai jiwamu sendiri, dan engkau membenci mereka sebagaimana jiwamu membencinya. Dengan itu semua niscaya engkau akan mampu dan selamat dalam menempuhnya.....!!"

Khalid bin Ma'dan kemudian berkata bahwa Mu'adz bin Jabal sangat sering membaca hadits tersebut sebagaimana seringnya beliau membaca Alquran, dan sering mempelajarinya serta menjaganya sebagaimana beliau mempelajari dan menjaga Alquran di dalam majelis pertemuannya./Wa laa haula wa laa quwwata illa billaah.